Hanee's Journal
blog seorang mahasiswa baru yang jauh merantau ke ujung timur pulau Jawa. enjoy!
Rabu, 20 Juli 2011
Malang
Rabu, 06 Juli 2011
Do You Believe in Miracle?

Jumat, 17 Juni 2011
Terakhir
Telpon genggam ku berbunyi. Satu pesan darimu! Entah, tapi aku senang sekali. Aku ingin melompat rasanya. Ini pertama kali setelah delapan bulan koneksi kita terputus. Segera aku membaca pesan darimu. Tiga huruf. Empat karakter akrab yang biasa saja namun entah mengapa, ketika itu darimu menjadi lebih menyenangkan daripada bermain roller coaster 5 putaran non-stop. “Hey!”. Itu saja darimu. Namun sepertinya, aku yakin, dapat membuat hariku lebih cerah. Bahkan kuis dadakan dari dosen pun dapat kukerjakan dengan baik. Haha berlebihan memang. Tapi memang itu kenyataannya. Aku segera membalasnya. Bingung harus kubalas panjang dan basa basi, atau singkat dan akrab seperti yang dulu biasa ku lakukan. Akhirnya aku memilih untuk singkat dan berbasa-basi.
Menyapa balik dan menanyakan kabarmu, itu yang kulakukan. Jarak kita lumayan jauh. Aku tak menyangka kita akhirnya akan sejauh ini. Tak lama kau membalasnya. Kau bilang kabarmu baik. Aku senang mendengarnya. Kau balik menanyakan kabarku dan bagaimana kuliahku disini. Aku bilang aku baik-baik saja, dan aku menyukai kuliahku disini. Sangat bahagia! Haha. Kemudian kau bercerita tentang kehidupanmu disana, kau bercerita tentang kuliahmu, teman-teman barumu, lingkungan barumu. Dari bahasamu aku lihat kau senang disana. Namun kemudian kau bilang,
“I miss you. I can’t find a friend like you here.”
“You just haven’t found one yet. You have me here though.”
“I bet you’ve found a friend like me, haven’t you?”
“No. I don’t need a friend now.”
“Oh, so you don’t need me, right? Sorry I’m disturbing -,-“
“Noo, no. It’s not what I mean. I mean, I already had you so I don’t need another friend.”
“Wow that’s sweet”
“Not always, haha. Well, I miss you too actually :/”
“I knew J. Sorry I got to go now. I kinda busy actually. I’ll call you later. Bye.”
“Bye. So nice to hear from you J”
Percakapan singkat, namun membangkitkan semangat. Ya, aku memang tidak salah omong. Jujur aku merindukanmu. Dan memang, aku tidak butuh teman lain lagi. Aku sudah memilikimu sejak dulu. Walaupun aku sempat kehilanganmu selama delapan bulan. Ya, delapan bulan. Aku menghitunginya haha. Norak memang. Aku masih ingin bercakap-cakap denganmu sebenarnya, tapi sepertinya kau memang benar-benar sibuk. Lain kali mungkin.
Keesokan harinya kau mengirim pesan padaku lagi, bertanya apakah aku sedang sibuk atau tidak. Dan beruntungnya, aku sedang tidak sibuk. Ternyata kau sedang ingin bercerita. Wow! Ritual lama yang terulang. Aku dengan senang hati mendengar ceritamu. Baiklah, membaca, bukan mendengar. Kau bercerita tentang hubunganmu dengan lelaki itu. Masih lelaki yang sama dengan yang delapan bulan lalu kau ceritakan. Kau bilang hubungan kalian sedang tidak menyenangkan. Kau tidak menceritakan apa masalah kalian. Kau tidak pernah menceritakan masalahmu. Kemudian kau meminta saran dariku. Aku memberikan sebanyak dan sebisaku. Karena jujur, aku tidak pernah berada di posisimu sebelumnya. Aku memang payah. Tapi kau puas saja dengan solusi dariku. Entah kau memang benar-benar puas, atau kau hanya ingin menyenangkanku saja.
“makasih ya.” Katamu
“tidak perlu. Aku tidak memberikanmu apa-apa.”
“kau tidak perlu memberiku apa-apa. Bisa ngobrol denganmu saja sudah memberikanku sesuatu. Makasih ya J”
Itu percakapan terakhir kita. Itu kabar terakhir darimu. Setelah itu aku tidak mendengar kabarmu lagi. Setahun, dua tahun, lima tahun. Aku tidak mendapatkan kabarmu lagi. Kabar terakhir yang kudapatkan dari temanmu, ia bilang kau telah sukses. Kau mendapat apa yang kau cita-citakan. Aku senang mendengarnya. Sekalipun kau tidak pernah menghubungiku lagi, aku yakin kau masih mengingatku. Kau tak akan pernah melupakanku, karena aku pun begitu. Tak akan dengan mudah melupakanmu.J